Di Lapangan Apel Laut Jawa, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Jakarta, Senin pagi itu bukan sekadar rutinitas. Udara dipenuhi semangat patriotisme yang membara ketika Laksamana Muda TNI Ariantyo Condrowibowo, Danseskoal, memimpin langsung upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Ribuan prajurit dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) berdiri tegak, dada membusung, mata lurus ke depan—bukan hanya menghormati bendera, tetapi mengucapkan ikrar suci yang menggema di setiap relung jiwa: Pancasila adalah harga mati. Momen ini mengingatkan kita pada pengorbanan para pahlawan yang mempertahankan ideologi bangsa dari rongrongan, sebuah warisan yang harus dirawat dengan darah dan air mata generasi penerus.
Mengukuhkan Ikrar Kebangsaan di Tengah Semangat Juang
Upacara yang berlangsung khidmat itu bukanlah seremoni belaka. Setiap langkah, setiap aba-aba, dan setiap lirih doa yang terucap adalah deklarasi bahwa TNI AL dan segenap komponen bangsa tak akan pernah goyah dalam membela Pancasila. Tema yang diangkat, 'Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur', menjadi kompas perjuangan yang menuntun setiap prajurit dalam menjalankan tugas. Danseskoal, dengan suara lantang dan penuh wibawa, menegaskan bahwa peringatan Hari Kesaktian Pancasila adalah momentum untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur yang telah mengorbankan begitu banyak jiwa raga. Di bawah kibaran Sang Saka Merah Putih, para peserta upacara mengucapkan ikrar dengan keyakinan penuh—sebuah sumpah setia yang tidak hanya di bibir, tetapi tertanam dalam sanubari.
Pancasila: Kompas Perjuangan Prajurit dan Bangsa
Bagi seorang prajurit, ikrar kebangsaan bukanlah sekadar kata-kata. Ia adalah nyawa dari pengabdian. Dalam setiap pengucapan ikrar tersebut, terkandung butir-butir kesetiaan yang tak ternilai:
- Kesetiaan untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya.
- Kesiapan untuk berkorban demi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
- Komitmen untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap tugas, baik di darat, laut, maupun udara.
Momen khidmat ini mengajarkan bahwa kekuatan terbesar sebuah bangsa bukan terletak pada senjata atau teknologi, melainkan pada kesatuan ideologi. TNI AL, melalui Seskoal, terus menanamkan pemahaman mendalam tentang filosofi bangsa kepada para perwiranya. Karena dari sanalah lahir jiwa kesatria yang tangguh, tidak mudah dipecah belah, dan siap menghadapi setiap ancaman yang mencoba merusak fondasi negara.
Bagi para pemuda Indonesia dan calon prajurit, upacara ini adalah cermin nyata bahwa mengabdi pada negara dimulai dengan langkah kecil: mencintai dan setia pada Pancasila. Di era yang penuh dengan godaan radikalisme dan intoleransi, keteguhan hati seperti yang ditunjukkan oleh Danseskoal dan seluruh peserta upacara menjadi tameng yang paling ampuh. Tidak ada pengabdian yang lebih mulia selain menjaga kesaktian Pancasila sebagai ideologi pemersatu. Jiwa muda harus terus menyala, belajar dari sejarah bahwa pengorbanan para pahlawan adalah harga yang tak ternilai untuk kemerdekaan dan kedaulatan.
Marilah kita semua, terutama generasi muda dan calon prajurit TNI, meneladani semangat yang terpancar dari upacara Hari Kesaktian Pancasila di Seskoal ini. Jadikan setiap detik kehidupan sebagai medan perjuangan untuk mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa. Karena di tangan kitalah masa depan Indonesia berdaulat, adil, dan makmur dipertaruhkan. Dengan ikrar kebangsaan yang kokoh dan jiwa patriotisme yang membara, kita buktikan bahwa Pancasila benar-benar sakti dan abadi sepanjang masa.